• ITP apakah bisa sembuh total ?

    Assalamu’alaikum.. Saya menderita ITP (idiopatic trombositopenia purpura) sejak November 2011. Saya juga menderita maag kronis. Namun Alhamdulillah trombosit hingga sejauh ini kisaran diatas 100 (101-199). Terapi yang saya lakukan selain dengan obat dokter saya rutin akupuntur dan konsumsi dan jus manggis sebagai antioksidan, terkadang ketika menstruasi saya minum fu fang ejio jiang untuk menambah darah. Alhamdulillah kondisi saya sudah semakin baik walaupun trombosit masih naik turun. Yang ingin saya tanyakan : 1. Apakah ITP bisa sembuh total (tidak kambuh) ? Biasanya saya hanya melakukan tes darah lengkap untuk mengetahui kondisi tubuh. Adakah tes lain yang perlu dilakukan, tujuannya untuk mengetahui kondisi autoimun..apakah saya sudah sembuh/ belum. 2. Saya pernah mendengar bahwa penderita trobositopenia tidak boleh berbekam karena khawatir terjadi pendarahan dan trombosit semakin turun, apakah itu benar ? 3. Dokter saya menyatakan ITP bisa merupakan secondary disease dari penyakit lain. Jujur, saya memang khawatir tentang hal ini..apakah bisa dijelaskan detail mengenai hal ini. ITP yang bagaimanakah yang merupakan secondary disease dan yang real ITP ? Jazakumullah khairan katsiran. Wassalamu’alaikum

    Jawaban :

    Wa’alikum Salam,Wr.Wb.

    Saudaraku yang di Rahmati Alloh SWT, ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpurae) ialah suatu gangguan autoimun yang ditandai dengan trombositopeni (angka trombosit darah perifer kurang dari 150.000/mm3) akibat destruksi prematur trombosit yang meningkat (akibat autoantibody yang mengikat antigen trombosit).

    Di dalam tubuh manusia, ada yang namanya sistem hemostasis. Hemostasis ialah suatu fungsi tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan keenceran darah sehingga darah tetap mengalir dalam pembuluh darah dan menutup kerusakan dinding pembuluh darah sehingga mengurangi kehilangan darah pada saat terjadinya kerusakan pembuluh darah. Faal hemostasis melibatkan 4 sistem, yakni ; sistem vaskkuler, sistem trombosit, sistem koagulasi dan sistem fibrinolisis.

    Adanya trombositopenia pada ITP ini akan mengakibatkan gangguan pada sistem hemostasis tersebut.

    Dalam keadaan normal, umur trombosit sekitar 10 hari, sedangkan pada ITP, umur trombosit memendek menjadi 2-3 hari atau bahkan hanya beberapa menit saja. Memendeknya umur trombosit ini disebabkan karena peningkatan destruksi trombosit di limpa oleh karena proses imunologi, dan umur trombosit berhubungan dengan kadar antibody platelet, sehingga bila kadar antibody platelet meninggi, maka umur trombosit semakin pendek.

    Yang memegang peran dalam menimbulkan perdarahan pada ITP diduga tidak saja tergantung pada jumlah trombosit, tetapi juga fungsi trombosit dan kelainan vaskuler.

    Diperkirakan insidensi ITP ini terjadi pada 100 kasus pada 1 juta penduduk per tahun, dan setengahnya terjad pada anak-anak.

    Secara klinis, ITP ini dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :

    1. ITP Akut
    ITP akut (kurang dari 6 bulan) ini lebih sering terjadi pada anak (usia 2-6 tahun), seringkali terjadi setelah infeksi virus akut (Rubeola, Rubella, Varicella zoozter, Epstein Barr virus) dan penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh virus. Manifestasi perdarahan ITP akut pada anak biasanya ringan, perdarahan intracranial terjadi kurang dari 1% pasien. Biasanya ITP akut pada anak ini self limiting, remisi spontan terjadi pada 90% pasien (dimana 60% sembuh dalam 4-6 minggu, dan lebih dari 90% sembuh dalam 3-6 bulan). Dan sekitar 5-10% lainnya berkembang menjadi ITP kronik (berlangsung lebih dari 6 bulan).

    2. ITP kronik
    ITP kronik ini terutama dijumpai pada wanita berumur 15-50 tahun. Episode perdarahan dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, mungkin intermitten, bahkan terus menerus.

    Bila penderita ITP diperiksa secara fisik, maka biasanya keadaan umumnya baik, tidak didapatkan demam, dan tidak ada pembesaran limpa maupun hati.
    Gejala klinis bervariasi tergantung jumlah trombosit serta kadar antibodi platelet. Anemia baru didapatkan bila terjadi perdarahan hebat. Gejala ITP sendiri biasanya pelahan-lahan dengan riwayat mudah berdarah dengan trauma maupun tanpa trauma. Pada umumnya bentuk perdarahannya ialah purpura pada kulit dan mukosa (hidung, gusi, saluran makanan dan traktus urogenital).

    Perdarahan spontan terjadi bila jumlah trombosit < 50.000/mm3, dan bila jumlah trombosit < 10.000/mm3 akan berisiko terjadi perdarahan intracranial (komplikasi serius, mengenai sekitar 1% dari penderita ITP). Diagnosa ITP ditegakkan jika dijumpai :
    1. Gambaran klinik berupa perdarahan kulit atau mukosa.
    2. Ada trombositopenia (jumlah trombosit < 150.000/mm3).
    3. Tidak didapatkan pembesaran limpa.
    4. Pada pemeriksaan sumsum tulang ; megakariosit normal atau meningkat.
    5. Ada antibody platelet (IgG positif)–> Tapi bukan suatu keharusan.
    6. Tidak ada penyebab trombositopenia sekunder.

    Untuk praktisnya (dan juga karena keterbatasan alat) sebagian besar diagnosa ITP ditegakkan dengan cara eksklusi (menyingkirkan faktor-faktor sekunder yang dapat menyebabkan trombositopeni), seperti SLE, obat-obatan, trombositopenia post transfuse, leukemia.

    Dan mungkin pada sebagian besar kasus ITP pada anak, awalnya akan didiagnosa dengan DHF dengan manifestasi perdarahan (grade III-IV), tapi seperti yang disebutkan diatas, pada ITP tidak didapatkan demam, pembesaran limpa dan tidak ada peningkatan hematokrit.

    Terapi ITP lebih ditujukan untuk menjaga jumlah trombosit dalam kisaran aman, sehingga mencegah terjadinya perdarahan mayor. Terapi umum meliputi aktivitas fisik berlebihan untuk mencegah trauma (terutama trauma kepala), dan menghindari pemakaian obat-obatan yang mempengaruhi fungsi trombosit (seperti Aspirin dan obat Aspirin-like lainnya).


    Ada beberapa factor yang mempengaruhi prognosa semakin membaik atau memburuk bagi seorang penderita yaitu usia penderita, jumlah trombosit, kadar antibody platelet dan lama timbulnya keluhan. Oleh sebab itu pemeriksaan darah secara berkala haruslah anda lakukan, untuk pemeriksaan di luar itu tidaklah teramat penting. Bagi penderita ITP memang harus diketahui bahwa Bekam bersifat kontraindikasi, karena dengan pembekaman akan menimbulkan beberapa gangguan setelahnya. Seperti perdarahan, luka bekam yang sulit disembuhkan, anemia, dll. Untuk ITP sebagai secondary disease bukanlah mutlak penyebab dari penyakit yang lain. Tetapi ITP itulah yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala penyerta yang lain, karena penyakit ITP merupakan suatu penyakit yang dapat disebut sebagai Sindroma. Oleh karena itu ITP dapat dikatakan berat atau tidak berdasarkan gejala yang timbul dan hasil pemeriksaan darah yang memburuk. Dan yang pasti ITP yang bersifat kroniklah yang mempunyai prognosa yang buruk/jelek. Semoga bermanfaat !!!

    Wassalamu’alikum,Wr.Wb.

    Print Friendly
    Leave a reply →

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Photostream

Print Friendly

Login

Register | Lost your password?