• EFISIENSI PEMBERIAN MADU DALAM PENANGANAN KORBAN BANJIR

    EFISIENSI PEMBERIAN MADU DALAM PENANGANAN KORBAN BANJIR

    Oleh: dr. Fadli Quzwain (praktisi herbal medis Klinik Sehat)

     Jakarta sudah tidak asing lagi dengan banjir yang datang setiap tahun. Banyak hal melatarinya sehingga masalah ini tidak pernah tuntas ditanggulangi oleh pemerintah. Terlepas dari polemik tersebut penanganan korban banjir harus mendapatkan perhatian yang memadai dari setiap elemen masyarakat. Termasuk kita!

    Di awal-awal banjir biasanya dalam 1-2 hari kebutuhan yang paling mendesak adalah ketersediaan air bersih untuk keperluan minum, tempat perlindungan (pengungsian), beras, lauk-pauk, makanan, dan selimut. Namun bila banjir tak kunjung surut maka korban banjir akan dihadapi pada permasalahan penyakit-penyakit umum seperti diare, infeksi saluran nafas atas, batuk, pilek, demam, gatal-gatal, penyakit kulit, dll. Penanganan yang tidak adekuat terhadap penyakit-penyakit umum saat banjir tersebut akan berdampak akan terus berlanjut hingga pascabanjir.

    Pemerintah dan masyarakat diharapkan saling bahu membahu membantu korban banjir misalnya dalam bentuk makanan, obat-obatan, pakaian, dll. Akan tetapi perlu juga untuk dipikirkan apabila bantuan berupa makanan yang diberikan kepada korban banjir juga merupakan obat bagi mereka sehingga bisa diberikan baik sebelum penyakit timbul (preventif) maupun saat penyakit telah menyerang (kuratif). Salah satu bahan makanan sekaligus obat yang memnuhi kebutuhan di atas adalah MADU.

    Di dalam Al Quran telah Allah nyatakan bahwa madu dapat digunakan sebagai obat

    …dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An Nahl: 69)

    Dan di dalam shahihnya Imam Bukhori meriwayatkan

    Gunakanlah selalu dua macam obat yaitu Alquran dan madu

    Telah diakui bahwa madu mengandung nutrisi makro dan mikro yang sangat baik untuk tubuh. Ribuan penelitian telah dilakukan yang membuktikan kemampuan madu dalam pengobatan. Bahkan madu telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu oleh manusia. Tingginya kadar gula sebagai sumber energi diserta mikronutrient yang penting untuk metabolisme tubuh menjadikan madu sebagai makanan sekaligus obat bagi manusia. Banyak landasan referensi dan penelitian terkait manfaat madu dalam meningkatkan daya tahan tubuh dan dalam menangani penyakit, sebagian kecil diantaranya yaitu:

    1. Madu sebagai antibiotik

    Banyak penelitian yang mebuktikan keampuhan madu terhadap beragam bakteri seperti Proteus spps; Serratia marcescens; Vibrio cholerae; S. aureus; E. coli; P. aeruginosa; S. maltophilia; A. baumannii; A. schubertii; H. paraphrohaemlyticus; Micrococcus luteus; Cellulosimicrobium cellulans; Listonella anguillarum; H. pylori; Salmonella enterica serovar Typhi; Mycobacterium tuberculosis, sehingga efektif untuk penyakit seperti sepsis, infeksi saluran kemih, infeksi saluran nafas, infeksi luka, kolera, infeksi nosokomial, diare, ulkus diabetes, Pneumonia, gastritis kronik, ulkus duodenum, tipus, TBC 1,2,3

    Madu juga telah diujikan terhadap beberapa agen yang merugikan (pathogen) terhadap manusia yaitu Escherichia coli, Entrobacter cloacae, Pseudomonas aeruginosa, Shigella dysenteriae, Klebsiella sp., Haemophilus influenzae, Proteus sp., Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolyticus group B, dan Candida albicans. Diantara agen patogen tersebut ternyata yang paling sensitif terhadap madu adalah E. coli, P. aeruginosa, dan H. influenzae. Sangat menarik bahwa aktifitas antimikroba dari madu ternyata meningkat bila diberikan paparan sinar ultraviolet.4

    Bahkan belum ada laporan resistensi bakteri terhadap madu, sehingga madu menjadi pilihan yang sangat menjanjikan sebagai agen antimikroba topikal untuk mengatasi infeksi dari bakteri yang telah resisten antibiotik dan mengobati infeksi kronik luka yang tidak respon terhadap antibiotic.5

    2. Madu efektif untuk mengatasi masalah pencernaan

    Masalah pencernaan seperti mencret (diare), tifus, dll sering didapatkan pada korban banjir. Penelitian menunjukkan efektifitas madu dalam menghambat S. typhi, S. flexneri dan E. coli, S. Pyogenes. Disamping itu madu juga efektif digunakan sebagai substitusi glukosa pada rehidrasi oral dimana aktifitas antibakterial madu mampu mempersingkat durasi diare bakterial.6

    Cukup menarik bahwa penerapan madu untuk mengatasi masalah pencernaan ini juga dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Hal ini dapat dilihat dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori:

    Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; ‘Saudaraku sedang menderita sakit perut.’ Beliau bersabda: ‘Minumilah madu.’ Kemudian laki-laki itu datang kedua kalinya, lalu beliau tetap bersabda: ‘Minumilah madu.’ Kemudian laki-laki itu datang yang ketiga kalinya, beliau bersabda: ‘Minumilah madu.’ Kemudian dia datang lagi sambil berkata; ‘Aku telah melakukannya.’ Maka beliau bersabda: ‘Maha benar Allah, dan perut saudaramulah yang berdusta, berilah minum madu.’ Lalu ia pun meminuminya madu dan akhirnya sembuh.

    3. Madu untuk infeksi saluran pernafasan

    Banyak penelitian yang menunjukkan kemampuan madu dalam mengatasi masalah infeksi saluran nafas. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Paul IM yang menguji efek madu dan obat batuk (dextromethorphan) dalam menekan batuk pada infeksi saluran nafas atas. Ia mendapatkan bahwa madu merupakan terapi yang lebih baik dibandingkan dextromethorphan untuk menekan batuk pada infeksi saluran nafas atas pada anak.7

    Selain itu Laurie Barclay menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa madu dapat menjadi pilihan yang layak untuk mengobati batuk yang berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) pada anak-anak.8

    4. Madu untuk sakit mata

    Madu juga sudah diujikan pada infeksi bakterial konjungtiva oleh Al-Waili dan didapatkan bahwa aplikasi madu pada konjungtivitis bakterialis dapat mengurangi bengkak, kemerahan, pus discharge, dan waktu penyembuhan.4

    5. Madu untuk menangani perdarahan dan meningkatkan Hb

    Pengaruh madu terhadap parameter hematologi dan biokimiawi tubuh setelah perdarahan. Pemberian diet madu 50% pada tikus Sprague-Dawly mampu menurunkan kadar gula darah, enzim aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase (ALT) dan triasilgliserol, sel darah putih, serta menaikkan kadar hemoglobin (Hb), dan serum albumin. Parameter-parameter ini menunjukkan adanya kemampuan madu sebagai diet dalam penanganan perdarahan (Al-Waili, dkk., 2006).

    Dengan melihat sejuta manfaat dari madu yang tidak hanya menjadi sumber nutrisi namun juga sekaligus dapat menjadi obat, maka pemberian madu pada korban banjir di Jakarta merupakan keputusan yang tepat dalam penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum.

    Daftar Pustaka

    1. Molan PC. The antibacterial nature of honey. The nature of the antibacterial activity. Bee World. 1992;73:5–28.
    2. Manisha DB. Honey: its medicinal property and antibacterial activity. Asian Pac J Trop Biomed. 2011; 1(2): 154-160
    3. Lusby PE, Coombes AL, Wilkinson JM. Bactericidal activity of different honeys against pathogenic bacteria. Arch Med Res. 2005;36:464–467
    4. Al-Waili NS. Investigating the Antimicrobial Activity of Natural Honey and Its Effects on the Pathogenic Bacterial Infections of Surgical Wounds and conjunctiva. Journal of Medicinal Food. June 2004; 7(2): 210-222
    5. Dixon B. Bacteria can’t resist honey. Lancet Infect Dis. 2003;3:116.
    6. Tumin N, Halim NA, Shahjahan M, Noor Izani NJ, Sattar MA, Khan AH, et al. Antibacterial activity of local Malaysian honey. Malaysian J Pharma Sci. 2005;3:1–10.
    7. Paul IM. Effect of honey, dextromethorphan, and no treatment on nocturnal cough and sleep quality for coughing children and their parents. Arch Pediatr Adolesc Med. 2007 Dec;161(12):1140-6.
    8. Laurie Barclay. Honey May Effectively Treat Cough in Childhood Upper Respiratory Tract Infections. Arch Pediatr Adolesc Med. 2007;161:1140-1146, 1149-1153
    Print Friendly
    Leave a reply →

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Photostream

Print Friendly

Login

Register | Lost your password?